Dulu…

August 22nd, 2006 by helmysamad

1st
August 2000

Note
: This article is from my = me = male point of views…when you’re in love but
things are not going "smooth"…it’s a "…give me your heart,
make it real or else forget about it…" kind of thing…

Salams.

What’s so great about love? Coming from someone who thinks he’s not been
getting enough of it lately, it means a lot! The last thing you need is another
heartbreak! Just when things on the other side are looks pretty well, things
are not that rosy on the "love" side, that’s always the case and yes,
roses can bleed you if you’re not careful with it’s thorns. Try taking it like
it’s one of your learning process of maturity…yes, the hard way. You’ll probably be
a little bit emotional, if you’re that type - it’s natural. Being in this kind
of intricate situation sure exposed that weakness side of you. Erghhh, hate it
when that happens right? Love…makes you feel invincible, yet you’re not. It’s
just your illusion. You’re willing to do anything, I mean ANYTHING for it yet
by the end of the day, it makes you wonder whether it’s worth all the
trouble…that and yes, if you happen to survive.

Now,
when you’re in this kind of mess, say like feeling lonely and down, hearing
love songs is a NO-NO! Ouch! To Dear Miss Faith, this kiss so criminal?
Unstoppable? Unsinkable? Yeah when you’re in love, it’s centrifugal motion,
it’s perpetual bliss and it’s that pivotal moment…it’s unstoppable, unsinkable
and it’s criminal…that’s the feeling. Alas, for someone like you, who’s in a limbo
world, really not knowing what’s in store, the feelings are in a haywire mode.
You don’t really know how to interpret your feelings. There are moments that
you felt like just want to let it go…but "why are you still in my heart,
still in my soul?" Ahhhh Miss Faith, I assume that’s your line again.

Then,
there are moments that…"I thought life was over and out, when she went
away from me, my dying heart made it hard to breathe. I felt so all alone
because she were my earth, my number one priority. I gave my love to only her
but somewhere down the road, she felt a change in the weather and told me that
she had to journey on…but time made me stronger. After all the misery and pain
she put me through, she’s no longer my world. I’m doing just fine and getting
along very well without her on my mind…", heyyyy that sounds like Boyz 2 Men! Nevermind, that happens when that "angry" feeling came to play. Like usual, it’s
your mind SCREWING you around. Nothing new, people do craziest or stupid things
and live to regret later. That’s love, victim of love more like it…and it’s you!

It’s
also a TWISTED ELEGANT knd of thing. The special need that’s within us, tends to bring
out the best, yet worst in us. Though somehow deep inside, you know or maybe assumed,
that she’s just confused with the whole situation. But hey, you’re confused
too…huh, come to think of it…everyone is confused when in this kind of situation!
See what you have done dear? You’re messing not only with your mind and mine,
you have to messed with other too! Now, why you want to go and do that love?

But
wait! There’s something about her…she knows you, your deepest fears and your
fantasies. Is it an act of provocation? Knowing your partner (yeah sure…as if
you know. You’re wouldn’t be in mess in the first place if you know!), that’s a
possibility. She might be cooking all this just to push you to greater heights
(or simply to dump you). So she’s that smart eh? You bet! She’s a woman… you
know…the kind of woman that dictates. It fits, a King of Wishful Thinking…MEN
like you being dictates by a Smart "Always Cooking Something" Woman
that love to dictates. My…what love can do to screw all those Wishful Thinking
Men minds. Worse still when they are cooking something! You can bet all your
wishful thinking will be squashed and cooked and fed into the world of reality!
Come to think of it, I might just do some research to find out how many men
have such encounters and live to tell. Those info might come in handy for me!

So
now back to how you suppose to feel…everytime you saw her face, your heart
began to race. One half wants you to go and the other half tells you to stay.
You do get so lonely…one half wants you to let just any Tom, Dick and Harry to hold you down but - being a sucker - the other half for telling you that she’s the one, the only one, the one
that lives in you. You do get so lonely…when she came to mind. And you do call
her, just to hear her voice, knowing that she’s ok and asking her…Mannnn, you do get so
lonely. You wished she would take a minute to understand you, reevaluate her
mind…you’re everything she need and in this world a good man is hard to find
(you eh?). She should know. Heck, you know she knows. You know she misses you and you
know when all is said and done, she’ll think about this episode and realize
that you were the one. There’s so many things to say, so many things to talk
about. She’s the strength you hold onto. You want to strive together and be
perfect, till death do you part. These trials and tribulations build up walls,
but if you stand strong together enough, you can break it down and journey on.
Just bond your hearts and there’ll be nothing that will stand in your
way…you’ll be together forever and a day…now that’s what I call A Wishful Thinking!

So
now what’s so great about love? Apart from all the above plus all those love
songs you can think of and the bare truth about us-we-men weakness, it’s still
something that just can’t be describe precisely by words. It’s so special that
can make you feel on cloud nine or vice-versa…yes it can hurt too, but
love…trust me, be in it and you’ll understand. Reading this doesn’t actually
help much. Go out there, be in love, feel the heat, get burned and repeat the
whole process over and over again…who cares anyway when you know the password
of your heart…LOVE.

p/s:
In LOVE, you (as a man) is just a mice in that Pied-Pipper’s tale…GET IT?

Salams.

*Ini zaman dulu - harap maklum. Mohon maaf "grammar" - Saja-saja mengimbas…Har har har, kini saya benar terhibur…:D

Dunia Synflex…

August 20th, 2006 by helmysamad

Pagi ini saya terjaga dari tidur dengan sebelah urat-urat kepala saya dicengkam  raksasa bernamaOlympus1_177_1
Migraine. Mahu saja menelan sebiji Synflex (550mg), melembabkan kepala dan muka dengan air, menutup tingkap-tingkap dengan langsir dari dimasuki cahaya dan berhibernat, tetapi hari ini ada satu perkara penting yang perlu diselesaikan dan terpaksalah saya lupakan hasrat dan memulakan hari saya - Ah…terkadang saya benci Isnin…tidak, saya benci hari-hari yang saya terjaga dari tidur bersama Migraine!

Olympus1_179 Sebaik membuka komputer, benda ini menarik perhatian. Ada sesiapa yang tahu bagaimana menggunakannya? Saya tahu ini "Switch" berjangka, tetapi saya terlalu malas mahu memikirkan tentang bagaimana mahu menggunakannya kerana telah berkali saya putar dan pulas tetapi ia bagai tidak menuruti kata atau kemahuan saya. Ada sesiapa yang tahu?

Olympus1_172
Dalam jemari sibuk menekan kekunci, saya seakan merasakan ada sesuatu yang tidak kena. Saya rasakan seperti ada sesuatu yang sedang memerhatikan saya. Melihat sekeliling, Velvet sedang tidur di kerusi kesayangannya dan Chloe di lantai bawah kerusi. Pandangan saya terhenti sebaik terpandangkannya…

Olympus1_173
Mengapa dia tidak mendengar kata saya? Bukankah telah saya larang? Meletakkan pokok pasu bunga di luar - diatur sederet kerana itu saja corak yang boleh, ah jika ada angin kuat yang bertiup dan ada anak-anak yang bermain di bawah - saya kira kita akan bangkrap disaman atau lebih buruk dihukum penjara!

Olympus1_174
Mengapa terkadang pasangan anda tidak mendengar kata? Lihat saja cermin itu yang kotor…tidak bolehkah dia sekurangnya membersihkan cermin kaca itu? Adakah dia fikir dengan membiarkan begitu, aku tidak nampak atau perasan? Ah, aku perlu sebiji lagi synflex…

*Saya mengangkat pasu-pasu itu dan meletaknya di balkoni - Saya tidak mencuci cermin yang kotor itu kerana saya gayat - Kami tinggal di tingkat 2 - Akhir ini Synflex seperti kacang bagiku - musim migraine telah tiba - Adakah ini tindakbalasnya kerana saya melarang dia  meniru fesyen rambut Sharifah Aini?

MI:56

August 19th, 2006 by helmysamad

Babak Klimaks

Hero: Akhirnya kita bertemu juga!
Penjahat: Ya, akhirnya…bersedialah engkau!
Hero: Nanti dulu! Sebelum nyawamu terbang, boleh beritahu mengapa?
Penjahat: Mengapa apa?
Hero: Mengapa kau membunuh mereka itu?
Penjahat: Oh, senang…kerana mereka kelihatan bodoh bila berbahasa Melayu…
Hero: Hah?
Penjahat: Ya! Mengapa? Tak percaya?
Hero: Hanya kerana itu?
Penjahat: Ya. Mengapa? Tak percaya?
Hero: Mengapa kau menolak mereka dari tingkat 56? Tidak 7, 11, 13, 19, 22 atau 41?
Penjahat: Mmmmm menarik nombor-nombor tu (sambil keluarkan buku nota dan mencatat nombor-nombor yang disebut hero).
Hero: Hey! Aku bertanya ni…
Penjahat: Oh, tingkat 56 ini udaranya lain - lebih nyaman! Dan, permandangannya menarik. Aku suka lihat Genting Highland sebelum menolak mereka.
Hero: Kau gila! Bukankah lebih senang kalau kau tembak atau langgar saja mereka?
Penjahat: (Dengan wajah sedih) Aku tak ada lesen pistol dan memandu…

Berlaku pergelutan…akhirnya Hero ditewaskan…

Penjahat: Apa pesanan akhirmu? (Sambil menolak Hero ke sisi tingkap.)
Hero:   Yang kurik itu kendi, yang merah itu saga, yang cantik itu budi, yang indah itu bahasa…
Penjahat: Ohhh…(sambil berlinangan airmatanya.)

Hero sedar Penjahat sedang emosional. Dengan mengerah saki-baki tenaga yang ada, dia memusingkan tubuhnya sambil tangannya memulas dan memicit pergelangan tangan kiri Penjahat (Hero belajar Akido dengan meminati filem-filem Steven Seagal) dan…

Hero: Apa pesanan akhirmu?
Penjahat: (Gugup terkejut dan kesakitan kerana tangannya terpulas) Dua tiga kucing berlari, mana nak sama si kucing belang, dua tiga boleh kucari, mana nak sama si Hero seorang?
Hero: Huh, lawak bodoh! (Lalu menendang penjahat)
Penjahat: Arghhhhh…(melayang melepasi tingkap) Apa salah kuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…..
Hero: You sound stupid, when you speak Malay….

*Maaf ambil babak klimaks saja dan skrip longgar.

**Sebenarnya saya sendiri keliru siapa Hero dan siapa Penjahat…

SN - Seorang Insan Juga…

August 19th, 2006 by helmysamad

Beberapa hari yang lalu, saya sempat bersantai sebentar dengan Pak Samad di Kafe Kinokuniya. Selain dari berbincang tentang satu perkara yang agak menekan, aktiviti-aktiviti Pak Samad untukOlympus1_134_1
bulan Ogos juga diperbincangkan. Seperti biasa, Pak Samad akan membuka diarinya dan kami membincangkan tentangnya. Akhir-akhir ini saya tidak begitu "mengatur" aktivitinya kerana dibebani kerja-kerja Wira Bukit dan penilaian realiti diri yang sedang saya alami.

Satu perkara yang menjelekkan saya ialah bagaimana ada pihak-pihak yang mengeksploitasi
dirinya. Kerap Pak Samad dijemput membaca puisi atau memberi ceramah percuma. Mereka fikir Pak Samad ini seorang jutawan atau milik rakyat. Saya sebenarnya amat kecewa dengan situasi ini. Pak Samad besar kemungkinan akan menjadi seorang jutawan sekiranya mereka-mereka ini ikhlas dan prihatin. Namun ini tidak terjadi, sekurangnya tidak pada Pak Samad.

Ada juga yang telah berjanji - seperti apa yang berlaku di Port Dickson dalam acara anjuran Olympus1_138
Kementerian Pendidikan beberapa bulan lepas - tetapi hingga kini, janji tinggal janji dan orangnya agak saya tamat kursus ilmu halimunan kerana sehingga kini hilang entah ke mana.

Perkara sebegini sering berlaku ke atas diri Pak Samad. Dan kerana itulah juga Pak Samad kini sering membawa buku-bukunya - terbitan Wira Bukit - dan menjualnya dengan harapan sekurangnya jika dirinya diputar dan dibelit, adalah sedikit wang hasil penjualan buku-buku yang dibawanya - itu pun Dawama "bising". Inilah nasib seorang SN…ramai menyanjungnya dan ramai juga "penyamun tarbus" pemutar alam. Ingatlah, dia juga seorang insan yang perlu makan dan menyara.

Hargailah sedikit dirinya itu…


*Dawama - jika buku TIDAK LAKU semasa Pak Samad ada, sila jangan salahkan Pak Samad. Dawama perlu tahu mengapa CERMIN itu penting.

Firasat II

August 17th, 2006 by helmysamad

Hatinya terhiris dan jiwanya gerhana
drakula berpesta darah di bumi Palestina

Dia terlalu selesa di sini
khayal kafeina dan nikotina
sedangkan di sana
peluru dan bom mesra menerjah
membakar apa saja di bumi Palestina
angkara nafsu drakula yang membara
yang mabuk darah
yang sedang berpesta.

Dia,
hanya melihat tangan anak-anak Palestina terkulai
memberi makna di sebalik timbunan batu-batu
dengan secawan kopi dan sebatang rokok
dengan sekeping hati yang kononnya terhiris
dengan sebentuk jiwa yang kononnya gerhana
dan sebuah minda yang sepatutnya berkisar
di alam yang seharusnya siuman ini.

Dia gila…
Kau bagaimana?

Firasat I

August 16th, 2006 by helmysamad

Secawan kopi,
sebatang rokok,
dan sebuah minda -
berkisar di alam siuman.
Namun dirinya,
dimakan dari dalam
di mana alamnya
tidak siuman.

Duit…

August 15th, 2006 by helmysamad

Hari ini saya terjaga agak awal - telefon bimbit tidak henti berbunyi. Fikiran masih entah di mana bila saya bercakap dengan seorang pegawai bank. Semalam dia faks surat bank yang menyatakan ada "discrepancies - late presentation" dan di para atas "our refusal of documents and in accordance bla bla bla". Saya menginyakan saja - LC ini benar memakan masa saya.

Selepas mandi, kafeina dan nikotina, saya mula merasai kewarasan itu berlabuh. "Our refusal…" tetapi, sejam selepas itu klien menelefon dan menyatakan mereka menerima "discrepancies of late presentation" dan mengarahkan bank mereka meneruskan transaksi - wang akan dikreditkan dalam akaun esok, lusa, siapa tahu apa pula selepas ini.

Ah duit…membuatkan kepalaku pusing…dan ia tak pernah mencukupi!

‘It will sound stupid, if I speak Malay’

August 15th, 2006 by helmysamad

‘It will sound stupid if I speak Malay’ daripada mulut Sharifah
Amani selepas terima trofi Pelakon Wanita Terbaik undang kemarahan
Datuk Seri Rais Yatim’

“Saya tidak menghina bahasa Melayu. Apa yang saya maksudkan lebih mudah
untuk saya meluahkan rasa dalam bahasa Inggeris. Saya tidak mahu orang
sakit hati mendengar kerana saya kurang fasih berbahasa Melayu.”
- Sharifah Amani.

Dalam hal ini, saya tidak terkejut jika orang yang terkejut dan marah atas kenyataan tersebut lantas meluahkan kemarahannya itu akan dikatakan kolot. Malah, pasti ada yang menuduh kita terlalu sensitif hingga melatah kerananya - ini telah berulang saya alami.

Bagi saya, Sharifah Amani telah "mengejutkan" kita yang selama ini menganggap bahasa Melayu itu semulajadi dalam diri kita dan tidak begitu mengendahkannya, apalagi mendalami mempertajamkannya. Saya membayangkan kebun atau dusun yang terbiar dan  tidak diendahkan, pastinya akan bersemak dan kalau tidak bernasib baik, ada sang harimau atau ular sawa yang melingkar… menanti, menerkam atau membelit dan memakan/menelan tuan punya kebun/dusun yang selama itu tidak buat apa-apa, tetapi bila musim buah rajin pula meredah semak. Bila ini terjadi, gempar di media (termasuk blog!) maka tercetuslah kesedaran lantas kebun-kebun dan dusun-dusun mula ditebas oleh tuan-tuan kebun/dusun - dan sang-sang harimau/ular-ular sawa pun merungut terpaksa berpindah ke dalam hutan berhampiran.

Saya sebenarnya berterima kasih kepada Sharifah Amani. Dia boleh saja sebagai pembuka kata menyatakan, "Maaf, saya berbahasa Inggeris..," tetapi tidak. Dia perlu menyatakan, ia akan kedengaran sumbang jika dia berbahasa Melayu. Dan kerana kenyataannya itu - serta seruan revolusi mencemar budaya - kita tercelik, "APA HAL?" jerit hati. Selama ini jika bahasa Melayu yang menjadi bahasa Kebangsaan - tetapi tidak kebanggaan - diperlekeh dengan tidak begitu diambil berat, kini sekurangnya ada menteri yang rasa terhina dan berdukacita. Saya harap juga YB menteri-menteri sedar ini bukan "jarum dalam timbunan rumput kering". Ini berleluasa - ramai bangsa Melayu menganut dan mengagungkan bahasa Inggeris dan menolak bahasa ibundanya sendiri. Buktinya mudah - It will sound stupid, if I speak Malay’.

* Saya tidak rentan, saya benar-benar berterima kasih kepada Sharifah Amani - "U Rawk babe!"

**Kini ego saya - menulis dalam bahasa Melayu sedangkan dalam kepala berbahasa Inggeris - terubat, sedikit…

Pengantin Lelaki Itu Se Ekor Anjing…?

August 14th, 2006 by helmysamad

Saya pernah bercerita tentang minat saya membaca yang tercondong ke arah penulis-penulis Jepun. Saya masih condong ke arah itu dan pagi tadi sebaik terjaga, pandangan pertama adalah pada "Coin Locker Babies", sebuah karya Ryu Murakami yang berada di lantai tepi katil saya.

"Mengapa ya?" hati berbisik, tetapi urat-urat kepala masih santai dan saya bukanlah seorang yang mampu sangat berfikiran jauh dan "serious"  sebelum kafeina dan nikotina menyusuri mengejut urat-urat yang sedang bersantai itu.Olympus1_099

Berfikiran jauh dan "serious"? Saya senyum dan tergeleng. Setelah Nescafe & beberapa batang rokok, nampaknya ini hanyalah satu persoalan yang remeh. Tidak mudah, tetapi remeh. Saya memandang sudut saya itu dan sekali lagi tersenyum dan tergeleng. Pemikiran saya begitu, seperti buku-buku yang berselerak itu. Terlalu banyak yang mahu saya lakukan dalam masa yang sesingkat ini. Ia seperti lebuhraya di Seremban setiap hari minggu - sesak! Dan buku-buku ini seakan  memberi sedikit ruang bernafas.

Tetapi mengapa buku-buku Jepun? Saya kira penceritaan tentang kehidupan mereka itu menarik perhatian saya. Karya-karya seperti Ryu dan Haruki Murakami, Hitomi Kanehara, Yoko Tawada, Masahiko Shimada, Kyoji Kobayashi entah mengapa begitu mengikat - kecuali Kazuo Ishiguro yang karyanya "Never Let Me Go" sudah 4 bulan tidak habis saya baca.

Olympus1_100
"Monkey Brain Sushi", "69", "Coin Locker Babies", "Sputnik Sweetheart", "The Bridegroom Was A Dog", "Miso Soup", "Almost Transparent Blue", "Snakes & Earring" - maksud saya, tujuk-tajuk mereka ini pelik tapi menarik. Dengan jalan cerita yang mudah dan gaya penulisan yang "santai" (walaupun dialih bahasa) mereka ini membawa kisah masyarakat Jepun yang tidak terfikir oleh saya sebelum ini - "cult" (kultus?).

Namun, buku-buku ini tidaklah murah - kecuali karya-karya Haruki Murakami dan Hitomi Kanehara yang boleh dibeli sekitar RM32 ke atas, yang lain agak mahal - sekitar RM60-RM100. Ini mungkin kerana ia terpaksa diimport dan setahu saya dijual di Kinokuniya sahaja - tingkat 2 dalam Isetan.

Kalau diperhati, pasti nampak bahawa buku-buku Pak Hamka juga saya baca. Mengapa? Itu persoalanOlympus1_101
yang aneh…lain kali sajalah saya cuba kupas - persoalan aneh perlu nikotina + kafeina + suasana yang sesuai.

Isteri saya sudah faham benar perangai "menyepahkan" saya ini dan sudut ini satu kawasan yang dia tak "kacau"…

* Saya baca komik & buku Pak Habib juga.

** Rambut yang gugur juga saya biarkan di sudut ini.

*** Tajuk adalah translasi "The Bridegroom Was A Dog"…betulkah?

Rahmat Harun

August 13th, 2006 by helmysamad

P7130005Semalam saya berjumpa dengan Rahmat dalam satu acara di MPH Mid-Valley. Seperti biasa, dia masih begitu, tidak berubah dengan rambutnya masih "reggae" - kusut dan berbau. Seperti biasa juga, dia tidak henti menakjubkan saya dengan pengetahuannya. Saya boleh duduk dengannya, sekotak rokok - perlu nikotin untuk melembutkan urat kepala - dan kami boleh bercakap tentang apa saja di bawah langit. Rahmat ini salah seorang insan yang rupanya tidak sekata dengan apa yang ada dalamnya - jika sekali imbas dan tidak mengenalinya - dan saya pasti ramai yang fikir dia tidak siuman. Terkadang hati ini nakal mahu saja mengoyakkan wajahnya dan melihat apa sebenarnya yang ada dalam dirinya itu kerana terkadang saya kategorikan diri saya tidak siuman juga. Namun, saya tahu jika berhierarki, dia di atas saya dan saya tidak mampu terinjak ke atas lagi kerana keadaan tidak membenarkan.

Dari Poe ke Machiavelli ke Freemason dan IMF, dia tidak henti mencabar fikiran saya. Niat sebenar saya hadir adalah untuk melihat perubahan pada dirinya. Saya pasti, satu hari kelak dia akan berubah, berevolusi…lagi.

Seorang yang berhaluan kiri dan terlibat dengan demonstrasi jalanan kini Rahmat lebih "sopan" dalam pendiriannya. Saya melihat dia beralih ke seorang insan yang lebih berfikiran dalam menafsirkan kehidupan. Dia lebih "senyap" dan lebih berhati-hati dalam tindak-tanduknya. Ini terbukti apabila dia membaca puisi-puisinya pada acaraP7130009 yang di adakan. Saya kecewa. Dia seakan mengawal dirinya.

Semasa duduk bersama menikmati minuman di Dome, saya bertanya mengapa? "Suasana" jawabnya. Sekarang, sejak bila Rahmat memikirkan tentang suasana? Dia senyum. Saya lebih menafsirkan kejadian itu sebagai dirinya itu telah sampai ke satu paras yang lain. Mungkin usia mempengaruhi. Mungkin lantai dan dinding balai-balai polis yang amat di kenalinya tidak lagi mampu merangsang pemikirannya. Mungkin saja dia begitu kerana baru bangun tidur. Tetapi, Rahmat yang saya kenali adalah seorang insan yang begitu dalam pemikirannya, begitu luas pengetahuannya dan dia tidak segan meluahkannya secara zahir - bertindak! Pendiriannya teguh kerana dia tidak begitu menghiraukan "luaran" dan tapak tangannya sentiasa sejuk dan berpeluh…sejuk dan berpeluh?
P7130011_1 Ingat nama ini, Rahmat Harun…satu hari kelak saya percaya kehadirannya dalam dunia seni kreatif mencetus impak yang besar - itupun jika dia tidak dipesongkan oleh revolusi yang sentiasa lahir dalam jiwanya.

Mengapa tapak tangannya sejuk dan berpeluh? Entahlah, mungkin sesetengah perkara sememangnya tidak berubah…   

Sedikit Rahmat di: rahmat1 dan rahmat2